Pusat Informasi dan Tips Seputar Promo Riau

perjalanan rupiah

Pembelajaran dari perjalanan rupiah #CintaRupiah

Cinta Rupiah – Uang rupiah di Indonesia begitu banyak mengalami perubahan, masih ingatkah saat uang kertas dengan nominal 500 rupiah terkenal dengan ciri khasnya yaitu gambar orang utan? Ya, dahulu rupiah masihlah begitu unik dengan desain etniknya. Kita tahu bahwa Orang Utan adalah ciri khas suatu daerah di Indonesia yaitu Kalimantan atau Sumatra.Maka tak heran pada lembaran di rupiah pun sosok Orang Utang pun di tonjolkan.


Perubahan zaman tidak bisa di elakkan, zaman semakain modern dan teknologi semakin berkembang, begitu pun dengan rupiah. Perjalanannya memberi begitu banyak pelajaran juga nilai-nilai yang bisa kita petik untuk di ambil hikmahnya.

Kini rupiah mengalami perkembangan pada system keamanan juga desainnya. Misalnya saja pada bagian benang yang bisa menyala saat di bawah sinar ultra violet, ada juga unsur pengaman yang hanya bisa di deteksi dengan mesin dari Bank Sentral.

Bukan hanya dari sistem pengamanan, dari segi desain pun ada penambahan kode untuk tuna netra yang berbentuk rabaan agar dapat membedakan setiap nominal dari rupiah.

Dari segi desain gambar, kita dapat melihat banyak perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2000-2016 kita bisa melihat pecahan uang kertas Rp. 1000,- . Di tahun 2000-2016 ada gambar dari Sultan Pattimura yang membawa pedang, gambaran heroik yang di tampilkan di uang kertas zaman ini menjadi ciri khas kekuatan dari seorang pejuang, lalu pada tahun 2017 ini ada pergantian gambar pahlawan di pecahan uang Rp.1000,- yaitu Cut Meutia yang merupakan pahlawan wanita dari Aceh, gambar ini menjelaskan tentang ketegaran seorang pahlawan walaupun beliau adalah seorang perempuan.

Maka, ada hal yang bisa diambil dari perjalanan sebuah rupiah ini, yaitu tentang suatu kemajuan cara berfikir yang juga tanpa perlu meninggalkan sebuah jejak kebudayaan.

Teknologi terus berkembang, kian canggih juga memudahkan, dan keamanan semakin tinggi. Namun bukan berarti kita harus meninggalkan semua kebudayaan yang dahulu telah dibangun.

 

foto journalofaccountancy

(Visited 54 times, 1 visits today)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *