Akupuntur untuk jerawat telah diteliti sebagai salah satu pendekatan komplementer pada acne vulgaris. Namun, jerawat yang berulang tidak otomatis berarti seseorang membutuhkan akupunktur. Jerawat dapat muncul dalam bentuk komedo, lesi inflamasi, hingga kondisi yang berisiko meninggalkan bekas, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan tingkat keparahannya.

Jika jerawat sudah membaik lalu kembali muncul, langkah pertama bukan memilih prosedur tambahan, tetapi mengevaluasi kondisi jerawat saat ini. Akupunktur dapat didiskusikan sebagai terapi pendamping pada kondisi tertentu, tetapi evidence yang tersedia belum cukup untuk menempatkannya sebagai pengganti seluruh terapi acne yang sudah digunakan dalam praktik klinis.

Kenapa Jerawat Bisa Muncul Berulang?

Acne vulgaris merupakan kondisi multifaktorial. Produksi sebum, penyumbatan folikel, inflamasi, dan aktivitas Cutibacterium acnes merupakan beberapa proses yang terlibat dalam terbentuknya jerawat. Karena mekanismenya tidak tunggal, pola jerawat juga dapat berbeda antarorang. Ada yang dominan komedo, papul dan pustul inflamasi, atau kombinasi beberapa jenis lesi.
Inilah alasan istilah “jerawat berulang” belum cukup untuk menentukan treatment. Lokasi jerawat, jenis lesi, tingkat inflamasi, riwayat treatment, produk yang digunakan, serta kemungkinan terbentuknya scar perlu menjadi bagian dari assessment.

Di Mana Posisi Akupunktur untuk Jerawat?
Penelitian mengenai akupunktur pada acne vulgaris sebenarnya bukan hal baru. Systematic review dan meta-analysis tahun 2018 memasukkan 12 randomized controlled trials, dengan 10 penelitian masuk dalam meta-analysis. Review tersebut tidak menemukan perbedaan statistik antara kelompok akupunktur dan pharmacotherapy pada peluang mencapai perubahan jumlah lesi ≥30% maupun ≥50%. Namun, peneliti menekankan bahwa kualitas metodologi studi yang tersedia secara umum rendah. Artinya, hasil tersebut tidak tepat digunakan untuk menyatakan bahwa akupunktur sudah terbukti setara dengan terapi acne standar.

Penelitian yang lebih baru juga belum sepenuhnya menghilangkan persoalan tersebut. Scoping review tahun 2025 memetakan 114 penelitian akupunktur untuk acne, termasuk 48 randomized controlled trials, 63 penelitian intervensi non-randomized, dan tiga systematic reviews. Sebagian besar penelitian dilakukan di China. Penulis menilai kualitas RCT secara keseluruhan berada pada tingkat sedang dan proporsi penelitian berkualitas tinggi masih rendah. Jadi, ada basis penelitian mengenai akupunktur dan acne, tetapi masih terdapat gap pada kualitas evidence.

Apakah Berarti Akupunktur Bisa Menggantikan Treatment Jerawat?

Belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan demikian. Ini menjadi batas yang penting terutama bagi orang yang mengalami jerawat inflamasi, jerawat yang semakin berat, atau mulai mengalami scar. Menunda penanganan yang sesuai hanya untuk mencoba satu metode dapat membuat masalah kulit tidak tertangani secara optimal. Akupunktur lebih tepat dibicarakan dalam konteks complementary treatment apabila memang dinilai relevan, bukan sebagai alasan untuk menghentikan treatment acne lain tanpa evaluasi. Bahkan systematic review Cochrane mengenai complementary therapies untuk acne sebelumnya menyimpulkan bahwa keterbatasan kualitas penelitian membuat kesimpulan yang kuat mengenai penggunaan akupunktur untuk acne belum dapat dibuat.

Bagaimana dengan Klaim Jerawat Hormonal?
Istilah “jerawat hormonal” sering digunakan untuk menjelaskan jerawat yang terus berulang, khususnya pada perempuan dewasa. Namun, jerawat berulang tidak otomatis membuktikan adanya gangguan hormonal tertentu. Karena itu, klaim bahwa akupunktur dapat “menyeimbangkan hormon” lalu menyelesaikan jerawat juga perlu diperlakukan hati-hati.
Jika pola jerawat menimbulkan dugaan adanya faktor hormonal atau kondisi medis tertentu, evaluasi yang sesuai lebih relevan daripada menyimpulkan penyebab hanya berdasarkan lokasi jerawat atau pola kemunculannya.

Kapan Akupunktur Bisa Dibicarakan sebagai Terapi Pendamping?
Pembicaraan mengenai terapi pendamping menjadi lebih masuk akal setelah kondisi jerawat dinilai terlebih dahulu. Tujuannya bukan mencari satu treatment yang dianggap dapat mengatasi semua penyebab jerawat, melainkan menentukan posisi masing-masing intervensi dalam rencana perawatan.
Pasien juga perlu mengetahui apa target penggunaan akupunktur, bagaimana respons akan dievaluasi, berapa lama treatment akan dicoba, serta apa yang dilakukan apabila jerawat tidak membaik atau justru bertambah berat. Dengan pendekatan seperti ini, akupunktur tidak ditempatkan sebagai “obat jerawat”, tetapi sebagai salah satu pilihan yang dapat dibahas berdasarkan kondisi individual dan evidence yang tersedia.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah target treatment dapat berubah setelah jerawat mulai terkendali. Jerawat yang masih aktif berbeda dengan noda datar setelah jerawat maupun acne scar yang sudah menyebabkan perubahan tekstur kulit. Treatment Jerawat yang ditujukan untuk mengendalikan lesi aktif tidak otomatis merupakan treatment yang tepat untuk scar. Karena itu, pasien dengan jerawat berulang sekaligus bekas jerawat dapat membutuhkan rencana perawatan bertahap. Prioritasnya dapat berbeda sesuai kondisi kulit saat diperiksa.

Bagi pasien dengan jerawat berulang, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “apakah saya perlu akupuntur?”, tetapi “apa masalah yang sedang dominan pada kulit saya dan treatment apa yang relevan?” Pendekatan tersebut juga digunakan ketika menentukan apakah pasien lebih membutuhkan perawatan untuk jerawat aktif, skin treatment, penanganan acne scar, atau apakah akupunktur dapat dibicarakan sebagai terapi komplementer.

Di Enigma Clinic Jakarta Selatan, pasien dapat memulai dari konsultasi untuk menyampaikan pola jerawat, treatment yang pernah dilakukan, serta concern kulit lainnya sebelum menentukan pilihan perawatan. Enigma Clinic berada di Jl. Ciledug Raya No. 73H, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Untuk menanyakan jadwal konsultasi, pasien dapat menghubungi WhatsApp 0877-7699-2993.